Peran Penting Orangtua dalam Menciptakan Lingkungan Siber yang Aman

Peran Penting Orangtua dalam Menciptakan Lingkungan Siber yang Aman

Di lansir shanamoultonweb.com, bersamaan dengan tema Hari Internet Aman Sedunia 2021, TikTok Indonesia menyelenggarakan sebuah acara yaitu ,Media Briefing bertema “Peran Orangtua Ciptakan Lingkungan Siber Aman” pada Rabu, (10/02/2021). Kegiatan ini bertujuan untuk menyerukan upaya bersama dalam menciptakan internet sebagai tempat yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh penggunanya, terutama anak dan remaja.

Di kutip dari https://outletonline-michaelkors.us.org/, menurut Hendarman, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud sekaligus narasumber yang hadir dalam acara tersebut, peran keluarga berkaitan erat dengan CINTA. Lantas, apa itu CINTA? Untuk mengetahuinya, mari simak ulasan di bawah ini.

1. C = Contoh untuk menerapkan karakter positif

Karakter anak lahir dari proses yang panjang dan tidak sebentar. Untuk pembentukannya pun sebagai orangtua kita tidak bisa mengandalkan orang lain . Terlebih di tengah pandemik seperti sekarang ini.

Dalam hal ini, Hendarman selaku Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud menyampaikan bahwa peran keluarga berkaitan dengan CINTA. Di mana, pada poin pertamanya, yakni C di artikan sebagai contoh untuk menerapkan karakter positif.

Maksudnya, sebagai guru pertama bagi anak, orangtua harus bisa menjadi role model dan sosok teladan bagi perkembangan karakter mereka.

“Pertama ada C atau contoh untuk menerapkan karakter positif. Artinya, orangtua harus menjadi contoh teladan bagi anak,” terangnya.

2. I = Ingat tujuan positif selama proses pengasuhan

Setelah kata C, beliau mengatakan bahwa ada kata I yang berarti ingat tujuan positif selama proses pengasuhan ini. Maksudnya, baik orangtua atau anak harus memiliki persepsi yang sama untuk menjadi orang yang lebih baik.

Berbicara tentang ini, ia memberikan contoh untuk memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang sebagai alat bantu untuk penguatan karakter anak.

“Kita harus sama-sama sadar (baik orangtua atau anak), untuk memiliki persepsi yang sama, yakni menjadi orang yang baik. Maka dari itu, sebenarnya teknologi bisa jadi alat bantu untuk penguatan karakter. Namun di butuhkan pemahaman yang sama,” jelasnya.

3. N = Normalisassi diskusi dengan anak

Seperti yang kita ketahui, setiap anak memiliki pendekatan yang berbeda tengantung sifat, karakter, maupun usia mereka. Maka dari itu, orangtua juga berperan penting dalam normalisasi diskusi dengan anak.

Artinya, orangtua harus bisa menerapkan cara komunikasi yang berbeda sesuai usia anak.

“Misalnya kita punya anak usia 17 tahun dan 10 tahun, itu cara komunikasinya berbeda karena tingkatan usianya berbeda dan itu berpengaruh pada perkembangan psikologis anak,” jelas Hendarman.

4. T = Tempat aman dan nyaman bagi anak

Seiring perkembangan karakter dan usia anak yang memasuki status remaja, orangtua juga harus menjadi T atau tempat aman dan nyaman bagi anak. Artinya, orangtua harus bisa menjadi rumah sekaligus tempat curhat yang nyaman bagi setiap anak-anaknya.

Sayangnya, terkait hal ini Intan Gurnita Widiatie atau yang lebih di kenal dengan @nyiteung), CEO Label Musik Sorai, mengatakan bahwa semakin banyak orangtua yang justru memiliki hubungan gak harmonis dengan anaknya yang beranjak deewasa.

“Saya memerhatikan kok banyak orangtua yang mempunyai hubungan gak harmonis sama anaknya ketika anak beranjak dewasa. Menurut saya, orangtua yang gak bersikap fleksibel nantinya pasti akan membentur karang,” tegasnya.

5. A = Amati momen yang bisa menjadi pembelajaran anak

Mengiringi langkah kemajuan anak-anak yang hidup di dunia teknologi, terutama internet jelas gak mudah. Oleh karena itu, penting untuk mengamati setiap momen yang bisa menjadi pembelajaran bagi tumbuh kembang si kecil.

Untuk lebih memahami cara pengasuhan anak yang lahir di dunia digital, TikTok bekerja sama dengan DQ Institute meluncurkan Toolkit Keamanan Keluarga TikTok sebagai upaya menciptakan lingkungan siber yang aman. Gak hanya itu, Toolkit ini juga berisi tentang tips-tips praktis yang bisa di lakukan oleh orangtua untuk menjaga keamanan anak dalam berselancar di internet.

“Semoga Toolkit Keamanan Keluarga TikTok ini bisa menjadi sumber edukasi sekaligus panduan pengasuhan digital yang komprehensif bagi para orangtua di Indonesia untuk menyadari pentingnya keamanan, keselamatan, dan privasi daring anak remaja,” ucap Donny Eryastha, Head of Public Policy TikTok Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *